Sukabumi, Cerita Dibawah
Kaki Gunung Gede
Berasal dari cerita rakyat yang diceritakan dari
turun-temurun, Sukabumi lahir dari Bahasa Sunda yaitu Suka = senang/menyukai
Bumi = rumah atau biasa disebut resep
cicing di imah (Sukabumi).
Diawali dengan peperangan yang terjadi ketika pemerintahan
Ki Rangga Bitung, istrinya Nyi Raden Puntang Mayang yang saat itu sedang mengandung segera diasingkan
ke daerah Gunung Sunda di besisir Lebak Cawene (daerah Pelabuhan Ratu) bersama
Ki Jaro dan istrinya.
Ketika diperjalanan mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki
yang tidak diketahui asal usulnya namun Ki Jaro mempunyai keyakinan bahwa anak tersebut bukan sembarangan
karena itu mereka membawa anak tersebut dengan mereka," yén ieu budak lain budak samanéa" dan
diberi nama Wangsa Suta seperti dikutip dari http://dederuska.blogspot.co.id/2013/02/gunung-parang-pakujajar.html.
Beberapa tahun kemudian, anak dari Nyi Raden Puntang Mayang
yang diberi nama Nyi Pundak Arum tumbuh dengan sangat cantik dan berani yang
disenangi oleh banyak laki-laki, namun Pundak Arum selalu setia dengan
kekasihnya Wangsa Suta.
Raden Kartala demang di Kademangan Mangkalaya (Cisaat) yang
mendengar cerita bahwa Nyi Pundak Arum membawa celaka pada setiap lelaki nyang
ingin dinikahinya, Raden Kartala meminta nasehat pada Sakata dan memberi
nasihat bahwa lebih baik Pundak Arum segera dibunuh.
Singkat cerita, pengawal Raden Kartala berhasilkan menangkap
Nyi Pundak Arum dan akan membunuhnya dengan cara di penggal, Wangsa Suta yang
mengetahuinya segera menyelamatkan kekasihnya dan meminta Pundak Arum untuk
pergi ke Gunung Parang.
Namun ketika Wangsa Suta berhasil kabur dan pergi ke Gunung
Parang, ternyata Nyi Pundak Arum tidak ada dan ternyata Pundak Arum tidak
berhasil lolos dan dibawa ke Pulau Putri untuk di penggal.
Karena rasa cinta Wangsa Suta yang sangat dalam, ia
tetap menunggu hingga akhirnya Gunung Parang berbuah menjadi Sukabumi atau resep cicing di imah.