Selasa, 29 November 2016

Feature: Perjalanan



Sukabumi, Cerita Dibawah Kaki Gunung Gede

Berasal dari cerita rakyat yang diceritakan dari turun-temurun, Sukabumi lahir dari Bahasa Sunda yaitu Suka = senang/menyukai Bumi = rumah atau biasa disebut resep cicing di imah (Sukabumi).

Diawali dengan peperangan yang terjadi ketika pemerintahan Ki Rangga Bitung, istrinya Nyi Raden Puntang Mayang  yang saat itu sedang mengandung segera diasingkan ke daerah Gunung Sunda di besisir Lebak Cawene (daerah Pelabuhan Ratu) bersama Ki Jaro dan istrinya. 

Ketika diperjalanan mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki yang tidak diketahui asal usulnya namun Ki Jaro mempunyai keyakinan bahwa anak tersebut bukan sembarangan karena itu mereka membawa anak tersebut dengan mereka," yén ieu budak lain budak samanéa" dan diberi nama Wangsa Suta seperti dikutip dari http://dederuska.blogspot.co.id/2013/02/gunung-parang-pakujajar.html.

Beberapa tahun kemudian, anak dari Nyi Raden Puntang Mayang yang diberi nama Nyi Pundak Arum tumbuh dengan sangat cantik dan berani yang disenangi oleh banyak laki-laki, namun Pundak Arum selalu setia dengan kekasihnya Wangsa Suta.

Raden Kartala demang di Kademangan Mangkalaya (Cisaat) yang mendengar cerita bahwa Nyi Pundak Arum membawa celaka pada setiap lelaki nyang ingin dinikahinya, Raden Kartala meminta nasehat pada Sakata dan memberi nasihat bahwa lebih baik Pundak Arum segera dibunuh.

Singkat cerita, pengawal Raden Kartala berhasilkan menangkap Nyi Pundak Arum dan akan membunuhnya dengan cara di penggal, Wangsa Suta yang mengetahuinya segera menyelamatkan kekasihnya dan meminta Pundak Arum untuk pergi ke Gunung Parang.

Namun ketika Wangsa Suta berhasil kabur dan pergi ke Gunung Parang, ternyata Nyi Pundak Arum tidak ada dan ternyata Pundak Arum tidak berhasil lolos dan dibawa ke Pulau Putri untuk di penggal.

Karena rasa cinta Wangsa Suta yang sangat dalam, ia tetap menunggu hingga akhirnya Gunung Parang berbuah menjadi Sukabumi atau resep cicing di imah.

Selasa, 25 Oktober 2016

Feature: Profile Jokowi



Pahlawan Cungkring dari Solo
Oleh : Cindy Veronica

 Hasil gambar untuk joko widodo

Lahir dari keluarga sederhana tidak membuatnya berkecil hati, selalu bekerja keras dan tidak mengeluh itulah yang selalu di terapkan olehnya. Pria asli Surakarta ini sering membuat masyarakat tertegun melihat kesederhanaannya. 

Masuk menjadi 100 Tokoh Paling Berpengaruh 2015 Versi majalah Time, tidak membuatnya langsung besar kepala. Dengan menggunakan pakaian khasnya kemeja putih dan celana hitam, ia berhasil merangkul masyarakat dengan ciri khas blusukannya.

Sempat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta selama 2 tahun, pria yang akrab disapa Jokowi kembali ditunjuk untuk ikut pemilihan umum presiden Indonesia 2014. Meskipun begitu banyak pro dan kontra yang terjadi.

"Berarti masyarakat percaya dengan kinerjanya, maka meskipun dengan tempo 2 tahun Jokowi dianggap pantas untuk menjadi presiden", ucap Mahen sebagai salah satu pendukung Jokowi.

Menang Pilpres 2014, Jokowi membuat slogan Kerja, Kerja, Kerja yang sampai saat ini masih diterapkan olehnya. Menjadi orang pertama di Indonesia tidak membuatnya melupakan visi, misi dan program kerjanya, salah satunya program Tax Amnesty yang dijalankannya baru-baru ini.

Tax Amnesty berhasil membuat uang masyarakat Indonesia yang terparkir di negara tetangga pulang kampung, dengan tempo yang cukup cepat. Kepopuleran Jokowi juga menyebar ke rancah Internasional, dengan dibuatnya patung lilin Jokowi di Museum Madame Tussauds.

Selasa, 04 Oktober 2016

Feature: Profile




Tetap Semangat Meski Tersisih di Babak Knockout
Oleh : Cindy Veronica

Dengan wajah sumringah dan senyum lebar di wajahnya, salah satu anggota Mervo yang merupakan mahasiswa di UBM jurusan Ilmu Komunikasi 2015, menyita perhatian seluruh isi kelas ketika ia menceritakan kisahnya mengikuti ajang pencarian bakat pada bulan April 2016 di televisi swasta.

Meskipun ia bertubuh kecil namun suaranya yang lantang mampu menyihir seisi kelas ketika menyanyikan lagu  dari Judika- Bukan Dia Tapi Aku yang ditutup oleh tepukan dan sorakan dari seisi kelas. 

Bersama grup vokalnya yang bernama Mervo  beranggotakan Alfriando Eldat Lukas, Arlen Orlando Lukas, Angel Eva dan yang terakhir Herly Hutahaean atau yang lebih akrab di sapa Herly. Mereka berjuang bersama-sama untuk bisa hadir di musik Indonesia melalui ajang pencarian bakat.

(dari kiri ke kanan: Alfriando, Angel, Herly, Arlen)
Herly dan ke tiga temannya berjuang mulai dari babak audisi lewat video, dilanjutkan dengan babak blind audition dimana lagu Buktikan dari suara emas Dewi Sandra membuat Mervo berhasil dan dilema juga karena harus memilih coach antara Agnez Monica atau Judika.

Namun dilema segera berakhir karena mereka sepakat untuk memilih Judika sebagai coach "Kita memilih Judika", ucap nya dengan semangat dan senyum lebar di wajahnya.

Babak blind audition berhasil ia lewati namun perjalanan Herly masih panjang, Herly dan grup vokalnya masih harus melewati babak battle yaitu bertarung dengan tim nya sendiri yaitu Janita Gabriela yang merupakan lawan yang cukup tangguh, meskipun begitu Mervo berhasil melewatinya.

Sebelum masuk menjadi finalis 12 besar, gadis berumur 19 tahun ini masih harus berjuang melewati babak knockout, namun sayang lagu ciptaan Judika - Bukan Dia Tapi Aku tidak membuat keberuntungan  berpihak pada Herly dan grup vokalnya dimana mereka harus tersingkirkan oleh Siti Rosalia.

Kekecewaan memang tidak bisa di hindari "kecewa sih sedih juga ga sesuai harapan, karena kita kira kita akan lolos di babak ini", ungkapnya. Namun pengalaman selama di The Voice of Indonesia tidak akan pernah ia lupakan. ia juga menambahkan "kegagalan bukanlah akhir dari segalanya", ucapnya dengan tetap ceria.